Eps. 33: Angka Keramat dalam Sepakbola
Banyak nomor yang memiliki arti di sepakbola, ada yang dianggap nomor legenda, nomor pemain bintang sampai nomor kutukan, lalu apakah semua berarti ketika pada akhirnya yang dikenang adalah nama bukan angka

Banyak nomor yang memiliki arti di sepakbola, ada yang dianggap nomor legenda, nomor pemain bintang sampai nomor kutukan, lalu apakah semua berarti ketika pada akhirnya yang dikenang adalah nama bukan angka
Terkadang, cinta yang sudah terjadi di masa lalu kembali bersemi di saat ini. Bukannya memilih untuk beranjak pergi, tapi malah terjebak dalam romansa bersama memori. Ah tapi tahu apa kita soal cinta? -curhatan admin galau.
Tuntutlah Ilmu sampai ke Negeri Cina. Pepatah lama yang begitu terkenal di masa lalu, yang akhir-akhir ini merebak sampai ke dunia sepakbola dan perlahan berubah menjadi 'Carilah Uang Sampai ke Negeri Cina'. Apakah Cina emang secuan itu? Ya namanya juga udah soal cuan ya, siapa yang gak mau sih yekan.
Obrolan kali ini membahas soal buaya yang kerap dianalogikan sebagai hewan bejat, ternyata adalah simbol kesetiaan yang kaffah. Sama seperti sederet nama di sepakbola yang terkenal karena kesetiaan pada klub yang dibelanya. Selengkapnya bersama para Dewan Poacher, kali ini bersama buaya-buaya lainnya.
Bicara soal mental, sebenarnya tidak ada satu orang pun yang berhak menghakimi orang lain perkara memiliki mental berbeda, atau mungkin karena sebagian orang memilih ingin hidup di zona nyaman saja. Menghakimi dengan dalih bahwa dengan mental maka tiap orang akan lebih berprestasi apalagi lebih bersupremasi, sepertinya keliru. Mengapa? Karena cinta lah yang membuat kami bertahan disini. Kok gak nyambung ya? Ya emang napa sih iron men.
Apalagi yang lebih menyenangkan daripada melihat tim kasta keempat mengalahkan para raksasa berbeda kasta dan melaju hingga ke babak final Piala Liga? Bradford City punya jawabannya. Meski mungkin tak selamanya harus berakhir dengan indah.
Gimana kalo proses transfer pemain yang ribetnya bukan main ini kita bikin sederhana dan asik aja? Hanya dalam satu aplikasi, kamu dan aku kita jadi satu, ceilah. Kalo suka iya, kalo gak suka yaudah selow aja. Gitu aja kok repot.
Episode kali ini terasa spesial. Penampilan perdana dari Solo Run, rubrik baru dari Poacher Podcast Indonesia. Terasa semakin lengkap ketika dimulai dari salah satu yang terbaik soal Solo Run, Lionel Messi. Rubrik baru, semoga mampu menyegarkan kita semua dari tahun penuh sesak ini. Everyone, welcome to Solo Run.
Apakah pengkhianatan dalam sepakbola itu benar-benar ada? Apakah perlu ada regulasi untuk mengatur hal tersebut? Selengkapnya dibahas bersama Dewan Poacher Rompak.
Kali ini kita akan rekap transfer dan rumornya menjelang musim depan yang sudah dekat di depan mata. Ntah kenapa, lebih mirip Fabrizio Romano tapi lagi asik di Lapo (Bar orang Batak).
Dewan Poacher Rompak ngomongin soal banyak hal, mulai dari problematika generasi muda buat punya rumah, sampai ke klub yang ngalamin hal yang kurang lebih sama. Susahnya jadi orang yang tak punya, alasan mengapa semua orang memang harus berusaha.
Para Dewan Poacher Rompak menapaktilas perjalanan lahirnya podcast yang mempertemukan tiga pemuda antah berantah yang dipersatukan atas nama kecintaan terhadap sepakbola. Apa yang sedang terjadi dalam internal para Dewan? Semoga triumvirat ini panjang umur, Amin.
Ada yang tutup muka sambil nangis, ada juga yang juara terus pake caption sadis. Ada yang pede terus bawa speaker, sayang itu gak cukup kalo bodynya gak keker. Begitulah drama yang tersaji di perhelatan UEFA Champions League tahun ini. Review singkat dari Poacher, Selamat buat Bayern Sang Meister!
Teruntuk semua yang masih terus berjuang, dan tidak ingin sia-sia ketika kelak pulang... Pahamilah, satu yang harus terpatri. Adaptasi adalah Kunci. Asik gak tuh. Still on the rhyme brow...
Kasian mereka ini huhuhu jago banget aslinya tapi gak terkenal parah banget kasian tau gak kuat asli. Tolongin dong supaya kebenaran terungkap
Episode penuh antusias dimana para Dewan Poacher Rompak mengenang kenikmatan dan kejayaan tontonan dan permainan di masa kecil dulu. Kami tidak butuh petisi, cukup kembalikan kartun bola kami.
Seperti bicara sepakbola yang harus merakyat tanpa sekat, apakah alkohol dan rokok punya relevansi terhadap sepakbola secara esensial dan industri di dalamnya? Apakah alkohol dan rokok memang harus diganjar 'kartu merah' dari dunia sepakbola?
Serba cepat, serba express. Begitulah fenomena sepakbola khususnya Champions League di tahun ini dalam menyikapi situasi pandemi sekarang. Apakah ada sensasi yang berbeda di tengah kompetisi kilat ini? Dianalisis oleh para Dewan Poacher Rompak secara syahdu nan hikmat.
Fenomena Sinetron Azab yang kian marak belakangan membuat para Dewan Poacher Rompak kembali tergugah untuk mengangkat hal tersebut lalu membenturkannya dari sisi sepakbola. Pastinya, kurang lengkap rasanya tanpa dentuman analisis kritis suara hati penuh maki.
Kali ini Dewan Poacher Rompak mengadakan kunjungan kerja ke kandang Ngalcio, salah satu fanbase dan enthusiast Serie A Liga Italia ternama di Indonesia. Suasana berjalan kondusif dan sarat akan khazanah Serie A yang informatif, hanya saja para Dewan Poacher Rompak tampak sedikit kelelahan setelah beberapa episode sebelumnya sibuk emosi dan maki-maki.
Keberhasilan menyampaikan aspirasi rakyat terkait Ayam Geprek Barcelona & Crazy Rich Norak dalam Rapat Dengar Poacher (RDP) tak lantas membuat para Dewan Poacher Rompak berpuas diri. Kali ini mereka turut angkat bicara terkait isu hangat yang akhir" ini ramai diperbincangkan yakni soal investasi 'kempes' yang sebenarnya juga telah lama terjadi dalam dunia sepakbola. Karena sesungguhnya, financial planner yang terbaik adalah dirimu sendiri.
Teruntuk teman-teman kami sekalian dimanapun anda berada, baik rakyat pendengar setia Poacher maupun penghuni bumi biasa, dihimbau untuk tidak jumawa apabila kekayaan anda masih kalah dibanding Crazy Rich Surabaya. Kami khawatir, anda akan bernasib sama seperti Manchester City dan Paris Saint-Germain yang tak kunjung jadi juara Liga Champions.
Kritikan pedas resmi dilayangkan terkait makanan yang disinyalir menodai cita rasa nusantara khas mulut Dewan Poacher Rompak. Tak lupa pula turut disampaikan kritikan terhadap kinerja Badan Jaminan Sosial ternama kesayangan umat sepakbola indah yakni Ayam Geprek Barcelona yang performanya tampak mengecewakan di tahun ini.
Tak terasa perjalanan bersama Poacher sudah sampai di episode ke 10. Angka yang relatif sebenarnya. Mungkin kecil bagi kebanyakan orang, atau malah besar bagi sebagian kalangan. Namun satu yang pasti, kami tidak akan berhenti sampai disini. Kami akan terus berlayar, hingga jadi tim terbaik di tata surya.
Ribut ribut soal kambing jago yang satu ini emang gak ada matinya. Perihal memilih kambing memang soal selera. Maka dari itu, biarkan analisis jalanan Poacher membantumu menemukan kambing terbaikmu.
Para poacher jalanan tertarik untuk turut serta membahas soal privilege yang sempat ramai kemarin, kali ini dari sisi karir pesepakbola. Tentang dinasti sepakbola yang mengundang pertanyaan, numpang dibalik nama besar atau memang siap menjadi penerus tahta para legenda? Memang susah, karena keluarga sungguh harta yang paling berharga.
Menjadi juara yang 'tanggung' memang tidaklah mudah. Selamanya, sejarah akan mencatat bahwa mereka adalah salah satu dari yang terbaik, tapi cukup di nomor dua saja. Menjadi yang kedua memang tidak pernah mudah. Dikupas tuntas bersama para poacher jalanan kesayangan kita semua.
Seminggu tak bertemu, ternyata para poacher sedang berada di ruang VAR untuk meneliti fenomena aneh dalam sepakbola yang coba kita namai dengan Match Jahat.
Kali ini kita serius dulu ya. Sungguh, tidak akan pernah ada ruang untuk rasisme. Narasi dalam bentuk apapun yang hendak dibangun, tidak ada judul untuk menghakimi indahnya keberagaman. Kami percaya bahwa tak selalu yang berkilau itu indah, karena hanya Balotelli yang sungguh sempurna begitu adanya.
Menentukan satu nama dari sekian banyak pilihan tentang siapa yang harus didaulat menjadi pemain terbaik di galaksi ini memang bukan perkara yang mudah. Terlebih bila parameter yang dipakai memang bermacam-macam dan serba abu-abu. Namun bila akhirnya sederet fakta dan pencapaian harus digadaikan demi tradisi dan selera pasar, maka biarkan kehendak rakyat saja yang berbicara.