Raindrops and Resilience: Rina's Lesson on Balance - podcast episode cover

Raindrops and Resilience: Rina's Lesson on Balance

Jan 26, 202518 min
--:--
--:--
Download Metacast podcast app
Listen to this episode in Metacast mobile app
Don't just listen to podcasts. Learn from them with transcripts, summaries, and chapters for every episode. Skim, search, and bookmark insights. Learn more

Episode description

Fluent Fiction - Indonesian: Raindrops and Resilience: Rina's Lesson on Balance
Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
fluentfiction.com/id/episode/2025-01-26-23-34-02-id

Story Transcript:

Id: Hari itu, di sebuah kantor di Jakarta, suasana sibuk terasa di setiap sudut.
En: That day, in an office in Jakarta, a busy atmosphere was felt in every corner.

Id: Hujan deras mengguyur kota, menyelimuti kaca jendela besar dengan titik-titik air.
En: Heavy rain poured over the city, covering the large window panes with droplets of water.

Id: Suara guntur terdengar samar di kejauhan, menambah suasana dramatis di dalam ruang rapat.
En: The sound of thunder could be faintly heard in the distance, adding to the dramatic atmosphere inside the meeting room.

Id: Rina duduk di ujung meja, mencoba menyembunyikan rasa sakit yang mulai menyerang kepalanya.
En: Rina sat at the end of the table, trying to hide the pain that was starting to attack her head.

Id: Sejak pagi, Rina merasakan gejala awal migrain, tetapi dia berharap dapat mengatasi perasaan itu.
En: Since morning, Rina had been feeling the early symptoms of a migraine, but she hoped to overcome the feeling.

Id: Ini adalah pertemuan penting bagi Rina.
En: This was an important meeting for Rina.

Id: Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa diandalkan.
En: She wanted to prove that she could be reliable.

Id: Di sisi lain meja, Ardi, manajer berpengalaman, memimpin pertemuan.
En: On the other side of the table, Ardi, an experienced manager, led the meeting.

Id: Dia dikenal bijaksana dan tegas.
En: He was known for being wise and firm.

Id: Rina sangat menghormatinya dan ingin membuat Ardi terkesan dengan ide-idenya.
En: Rina respected him greatly and wanted to impress Ardi with her ideas.

Id: Saat diskusi semakin mendalam, migrain Rina semakin memburuk.
En: As the discussion deepened, Rina's migraine worsened.

Id: Pandangannya mulai kabur dan suara-suara di ruangan tampak teredam.
En: Her vision became blurred, and the voices in the room seemed muffled.

Id: Namun, dia terus berusaha berkonsentrasi.
En: However, she continued trying to concentrate.

Id: Keringat dingin mengucur perlahan di dahi Rina.
En: Cold sweat slowly dripped on Rina's forehead.

Id: Dalam hatinya, ia bertanya-tanya harus memilih antara tetap diam dalam kesakitan atau mengakui kelemahannya kepada Ardi.
En: In her heart, she wondered whether she should remain silent in pain or admit her weakness to Ardi.

Id: Tiba-tiba, saat diskusi mencapai titik penting, sebuah ide muncul di kepala Rina.
En: Suddenly, as the discussion reached a critical point, an idea popped into Rina's head.

Id: Ini adalah momen krusial.
En: This was a crucial moment.

Id: Dengan susah payah, Rina mengangkat tangan dan berbicara.
En: With great difficulty, Rina raised her hand and spoke.

Id: Suaranya sedikit bergetar, tetapi idenya jelas dan tepat sasaran.
En: Her voice trembled slightly, but her idea was clear and to the point.

Id: Semua mata tertuju padanya, termasuk Ardi.
En: All eyes were on her, including Ardi's.

Id: Ardi tersenyum, menandakan apresiasi.
En: Ardi smiled, indicating appreciation.

Id: "Itu ide yang sangat bagus, Rina.
En: "That's a very good idea, Rina.

Id: Terima kasih atas kontribusimu," katanya.
En: Thank you for your contribution," he said.

Id: Namun, tatapan Ardi beralih menjadi lebih khawatir ketika melihat ekspresi lelah Rina.
En: However, Ardi's gaze became more concerned when he saw Rina's tired expression.

Id: "Kamu baik-baik saja?
En: "Are you okay?"

Id: "Rina akhirnya mengakui masalahnya.
En: Rina finally admitted her problem.

Id: "Saya mengalami migrain, Pak.
En: "I'm having a migraine, Sir.

Id: Tapi saya tidak ingin melewatkan pertemuan ini.
En: But I didn’t want to miss this meeting."

Id: "Ardi mengangguk dengan pengertian.
En: Ardi nodded understandingly.

Id: "Kesehatanmu lebih penting.
En: "Your health is more important.

Id: Saya sangat menghargai usahamu.
En: I really appreciate your effort.

Id: Sekarang, lebih baik kamu istirahat.
En: Now, it's better for you to rest."

Id: "Setelah pertemuan usai, Ardi mendekati Rina dan memberikan beberapa nasihat.
En: After the meeting ended, Ardi approached Rina and gave her some advice.

Id: "Keseimbangan itu penting.
En: "Balance is important.

Id: Jangan terlalu memaksakan diri.
En: Don’t push yourself too hard.

Id: Apa yang kamu lakukan hari ini sudah membuktikan banyak hal tentang kemampuanmu.
En: What you did today already proved a lot about your capabilities."

Id: "Rina tersenyum lemah, merasa lega sekaligus bersyukur.
En: Rina gave a weak smile, feeling both relieved and grateful.

Id: Dia belajar bahwa meskipun ambisi penting, menjaga kesehatan juga merupakan prioritas utama.
En: She learned that while ambition is important, taking care of her health is also a top priority.

Id: Ardi menawarkan dukungan, dan Rina tahu dia tidak sendiri dalam perjalanan kariernya.
En: Ardi offered support, and Rina knew she was not alone on her career journey.

Id: Hujan masih mengguyur kota, tapi hati Rina terasa lebih ringan.
En: The rain was still pouring over the city, but Rina's heart felt lighter.

Id: Di balik awan gelap, ada pelajaran berharga tentang merawat diri dan menghargai kesehatan.
En: Behind the dark clouds, there was a valuable lesson about self-care and valuing health.

Id: Dengan bimbingan Ardi, Rina yakin bisa mencapai impiannya sambil menjaga kesehatannya sendiri.
En: With Ardi's guidance, Rina was confident she could achieve her dreams while maintaining her own health.


Vocabulary Words:
  • atmosphere: suasana
  • pane: kaca
  • droplet: titik
  • thunder: guntur
  • faintly: samar
  • corner: sudut
  • migraine: migrain
  • blurred: kabur
  • muffled: teredam
  • sweat: keringat
  • trembled: bergetar
  • contribution: kontribusi
  • concerned: khawatir
  • weakness: kelemahan
  • admit: mengakui
  • crucial: krusial
  • discussion: diskusi
  • advice: nasihat
  • capabilities: kemampuan
  • balance: keseimbangan
  • relieved: lega
  • valuable: berharga
  • guidance: bimbingan
  • priority: prioritas
  • support: dukungan
  • career: karier
  • dreams: impian
  • maintaining: menjaga
  • achieve: mencapai
  • window: jendela

Transcript

Speaker 1

Fluid fluent Dorg.

Speaker 2

Welcome to Fluent Fiction Indonesian, the podcast where we bring you bilingual stories to supercharge your listening comprehension. In each episode, will present a short story in both English and Indonesian with the aim of helping you to improve your listening comprehension.

Speaker 3

Explore the titrope walk between ambition and self care as Rena navigates a pivotal meeting under the stormy skies of Jakarta.

Speaker 2

Right after this commercial break.

Speaker 4

At Fluent Fiction, we're not just telling stories, We're bringing the world together by learning to understand each other. By subscribing to Fluent Fiction Plus. At plus dot fluentfiction dot org, you do more than just remove ads. You support a platform bridging global language differences, one story at a time. Your subscription not only guarantees you an unint erupted narrative, it also sustains our mission to bring stories in diverse

languages to everyone. It's simple. Visit plus dot fluentfiction dot org and become a plus subscriber today. When you do, you become a champion for global language learning and enjoy an ad free experience. So please join us at plus dot fluentfiction dot org. Let's transform the way we experience the power of stories. Your journey awaits at plus dot fluentfiction dot org. Together, we can keep the world's stories flowing.

Speaker 1

Hari itukantor dijakarta, suasana, sibutrasa, distis hujendrasmungur kota, man ayr suara, guard johann Ma, Namba, Susanna, dramatist di delau, rappat rina du du uju, majia manchyobam, munikan, rasa, sakya, mula manran kaplanya, s jackpagi, rena, rasakan, dijla al migrin tatapira, the patatasi prasa and itu iny adela partamuan panting bagi rina dia

inni mambutikan Baha dia biza dilkan. This is the line Majia r d manaor burban alaman mamimpin partamuan dia dikonal bi jacksana dante gas rina sant maharmatinya, then ini mambat ar di trakasan, then dana saa discusis makim mandelam, migran rina sa makin mamburu pana and tampa tredam na mun dietrus brus ahaber consentraci krina plahan di dahirna de la matinya has mamili and tadmakitan at maquila mahanya kappada r d tibatiba saisi panting munchu di kappell arena in adela

moment cruisia the nan susapaya rena mangtang and den barbichara sua dikit brightar gelas then to pasasaran samua matat jupadanya tmassuk r d ardresum mananda can pressia si it and sanga rina trima kasi atas contribuimu e katya na mun tatapan ardibrai hawakami hard expressi la la rina camu by bye saijia rina ahirya mang kui masa lahya saya malami mighrin pa tapi sayati the inman inni ar di maguk the nan panartian casahatan mullab panting saya sang a maharge

Usahamu sakarag lebbi bai camu tirahart usai ar dim the katrina then mamrican braa, nasihard etu, panting giangan lalum maxakan, diri appaykamula, kukan, hari ini, sudambutikana, haltan tan com renatra, loma, rasala, gazakali guz breshukur diablajerbahua, maskipun ambisipanting man jaga, khatan jugam urupa, can prioritas utama ar dimna ar kandu kunan denrinata, hudetida sendiri de lamparjellan, nan karna, hu jian masi, mangur kota,

tapi hatrinat rasa, lebringan, the balik awan, gulab adabla, brahadiri den maharge casehatan, the nan bimingan r d rina ya kin bisamanapai, impiana, sambilatanya sendiri.

Speaker 3

Let's take another listen. Listen closely to any parts you may have missed.

Speaker 1

Hari Itu di subu kantor di Jakarta Sua Sanna Sibutrasa di Satiyapsudu.

Speaker 3

That day, in an office in Jakarta, a busy atmosphere was felt in every corner.

Speaker 1

Hujen Dras Mungur Kota Manyeli Mutika Jila Busar din Titi Titi Ayr.

Speaker 3

Heavy rain poured over the city, covering the large window panes with droplets of water.

Speaker 1

Suara Guntur Din Samar Diki Johan Mnamba Sua Sanadramatis di de la Marua Rapa.

Speaker 3

The sound of thunder could be faintly heard in the distance, adding to the dramatic atmosphere inside the meeting room.

Speaker 1

Rina du du di uju Meijia Manchoba, Manya Munikan, Rasa Sakitya, Mulai Mani rang Kapalaanya.

Speaker 3

Rena sat at the end of the table, trying to hide the pain that was starting to attack her head.

Speaker 1

Sejet Baghi Rena, Rasa kijella al Aa mighrain Tatapi Dia Braha da Patatasi prasa an Itu.

Speaker 3

Since morning, Rena had been feeling the early symptoms of a migraine, but she hoped to overcome the feeling.

Speaker 1

Ini ade la Prata muan panting Bagirrina.

Speaker 3

This was an important meeting for Rena.

Speaker 1

Dia Ini Mumuktikan Bahua Dia Bisa dien del Can.

Speaker 3

She wanted to prove that she could be reliable.

Speaker 1

D Si Silain Mejia r d Mane yer La man mamempin Parta Muan.

Speaker 3

On the other side of the table, Rbi, an experienced manager, led the meeting.

Speaker 1

Dia di Canal Djaksana Dante Gas.

Speaker 3

He was known for being wise and firm.

Speaker 1

Rina sang At mohor Matinya then Inyan mummut Arditri Kassan dinan ede Deenya.

Speaker 3

Rena respected him greatly and wanted to impress Kardi with her ideas.

Speaker 1

Sa'at Discusi Samaki Mandelam Migrenrina Samakin Mumuru.

Speaker 3

As the discussion deepened, Rena as migraine worsened.

Speaker 1

Pandagaya Mulai Kabur den Sura Sara di Ruangan tampatre dam.

Speaker 3

Her vision became blurred and the voices in the room seemed muffled.

Speaker 1

Naw Mun diet trus brussahabrkon Sandrasi.

Speaker 3

However, she continued trying to concentrate.

Speaker 1

Kriingat di nin mumuchurpar Lahan di Dahirrina.

Speaker 3

Cold sweat slowly dripped on Renaa's forehead.

Speaker 1

De La ma Hatinya Ya harus mamili antaratata dim delam kasakitan ato maakuikla mahanya kapada Ardi.

Speaker 3

In her heart, she wondered whether she should remain silent in pain or admit her weakness to barti.

Speaker 1

Tibati ba sa'at dicusi panting sabad munchu dikaparina.

Speaker 3

Suddenly, as the discussion reached a critical point, an idea popped into Renaea's head. Inni ade la moment crusia, This was a crucial moment. Di susapaiya Rena mangan catangan dun barbichara. With great difficulty, Rena raised her hand and spoke.

Speaker 1

Suares ditar tatapid jillas dn thepatsas saran.

Speaker 3

Her voice trembled slightly, but her idea was clear and to the point.

Speaker 1

Sma ma tatrtu yupadaigne thermassu Ardi.

Speaker 3

All eyes were on her, including ardas.

Speaker 1

Arditre signum munande can appressia.

Speaker 3

Si Pardi smiled indicating appreciation.

Speaker 1

Itu ide and sang at bagus.

Speaker 3

Rena, that's a very good idea, Rena.

Speaker 1

Trima cassi atascontribusimu e catagne.

Speaker 3

Thank you for your contribution, he said, now.

Speaker 1

Moun tatapan Ardi Brali munye di l bihawatir katkamli had expressi l la Rena.

Speaker 3

However, Ridia's gaze became more concerned when he saw Remaya's tired expression.

Speaker 1

Camu bay Bay Saidjia, are you okay Rina ahirnya manga qui masa laya.

Speaker 3

Rena finally admitted her.

Speaker 1

Problem, Saya mang la mi migrain ba.

Speaker 3

I'm having a migraine, Sir.

Speaker 1

Tapi sayid in.

Speaker 3

One inni, but I didn't want to miss this meeting.

Speaker 1

Ar di mangan guingan Pangartian.

Speaker 3

Pardy nodded understandingly.

Speaker 1

Casahatan mu la bepan thing.

Speaker 3

Your health is more important.

Speaker 1

Saya sang a maharge Usahamu.

Speaker 3

I really appreciate your effort.

Speaker 1

Sakarrag le bi bai camu isti rah.

Speaker 3

Now it's better for you to rest.

Speaker 1

Satala moe usai ar dimund Katrina den mambrica bubrapa Nassi had.

Speaker 3

After the meeting ended, Arbi approached Rena and gave her some advice.

Speaker 1

Case im bangan itu pan thing balance is important, giant la lum mak sa candiri. Don't push yourself too hard. Apai yanka mulla ku can hari inni su da mamuktikan bunya haltan tang come pu MoU.

Speaker 3

What you did today already proved a lot about your capabilities.

Speaker 1

Rena traseum lam maras lagas kali guzbrshukur.

Speaker 3

Rena gave a weak smile, feeling both relieved and grateful.

Speaker 1

Die bla yerbahua musqui pun ambisi panting when Jaga Casehattan juga Murupa can prioritas uttama.

Speaker 3

She learned that while ambition is important, taking care of her health is also a top priority.

Speaker 1

Ard munaw Ar Kandu kung Aan Denri Nata Hudetti de Sendiri de la Purgella Nankarna.

Speaker 3

Cardi offered support, and Rena knew she was not alone on her career journey.

Speaker 1

Hujen Masi Mangurkota tapi Haatiri Natrasa la bireing An.

Speaker 3

The rain was still pouring over the city, but Rina's heart felt lighter.

Speaker 1

Di belli au and gulab Adepla geren Bhargatan Tamrawaddiri den mahargei Casehatan.

Speaker 3

Behind the dark clouds. There was a valuable lesson about self care and valuing health.

Speaker 1

De nan bimingen Ardi Rena ya kin bisa maia pai impiagnya, sambil, maunjega caseehatanya sendiri.

Speaker 3

With pard s guidance, Rena was confident she could achieve her dreams while maintaining her own health.

Speaker 2

Today's vocabulary words are coming up right after this commercial break. Here are today's vocabulary words, first in Indonesian, then in English.

Speaker 1

Suasana, suasana, sua, sanna, atmosphere, gotcha, gotcha, ga ja pain, titi, titi t ti, droplet, guntur, guntur, gun tour, thunder sama, samar, samar, faintly, sudh sudu, sud corner, migrain megrain megrain, migrain, kabur, kabur, kaur, blurredd dam tra dam a dam, muffled, carina, kring ad, kring ad, sweat, burghetta, burghetar, burghetar, trembled, contry, boosy, contry, boosy, kontry, boosy, contribution, Hawa, tir hawa, tir hawa, tir concerned, kala mahan, kalamahan, kalamahan, weakness,

munga Kui maungakui manga Kuhi, Admit Crucia, crucial Cruisia khrush this kusi, this kusi, this Cousi discussion, nazi Hat, nazi hat, nazi hat advice, Commam Puan, Commam Puan, co Mampuan, Capabilities, Casa imbangan, Casa imbangan, cassa, im bangan, balance, lega, lega relieved, burharga, bharga, burharga valuable, bim bing An, bim bingan, bim being an guidance, Prioritas, prioritas,

prioritas priority. Do Kungan do kungan do kungan Support, Carrier, carrier, car ere, career, impian, impian im biyan dreams, Munjaga, Munjaga, Munjagga, maintaining Munjapai, munjap Bai, munjapi, achieve Gendla gendi la, gend la window.

Speaker 2

We hope you've enjoyed this episode of Fluent Fiction Indonesian. Our team works tirelessly to bring you high quality, engaging content that will help you to reach your goals, but we can't do it alone. Your support is crucial in keeping our doors open and our content flowing. Please consider becoming a premium subscriber. To day you'll get more stories, no ads, custom episode requests and more. Visit w w

W dot Fluent fiction dot org, slash Premium Indonesian. Thanks for listening, and now a final word from our sponsors

Transcript source: Provided by creator in RSS feed: download file
For the best experience, listen in Metacast app for iOS or Android